Mengapa Kantong Plastik Tidak Gratis Lagi?

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh sciencemag.org Februari tahun lalu, Indonesia berada diperingkat kedua dunia setelah Tiongkok, sebagai penyumbang sampah plastik ke laut. Peringkat berikutnya ada Filipina, Vietnam dan Sri Lanka.

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Greeneration, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun.

Dari berbagai riset tersebut, tak heran jika pernah terjadi bencana “longsor sampah” yang terjadi di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005 silam.

Lalu bagaimana kita menyikapi masalah sampah plastik ini? Beberapa hari terakhir beredar infografik mengenai kantong plastik di sosial media.

Infografik Kantong Plastik

Rencana plastik berbayar

Di Hari Peduli Sampah Nasional, 21 Februari 2016 lalu, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mulai memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar. Kebijakan ini sendiri masih tahap uji coba di 22 kota di Indonesia. Rencananya, kebijakan ini akan mulai diberlakukan pada bulan Juni 2016.

Hasil survey Kementrian LHK menunjukkan 87,2% responden setuju dengan program ini. Program kantong plastik berbayar ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan plastik yang dapat mencemari lingkungan.

Kenapa plastik tidak gratis?

Program plastik berbayar ini sendiri bukan hal baru karena sudah diterapkan oleh beberapa negara di Eropa, Amerika dan Asia. Dalam satu tahun, Inggris mampu mengurangi penggunaan plastik hingga 71%, Amerika 78%, dan Hongkong hingga 75%.

Totebag vs Plastik

Hasil survey Kementrian LHK menunjukkan bahwa 77,8% responden memilih tidak membeli kantong plastik bila ditetapkan harga Rp 500 – Rp 2.000 per kantong plastik. Namun dalam tahap uji coba ini, setiap kantong plastik dibanderol Rp 200 per kantong plastik.

Kantong plastik berbayar berlaku dimana saja?

Kementrian LHK bekerja sama dengan APRINDO (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar. Langkah awal, program ini akan berlaku di semua toko ritel modern, seperti minimarket, super market hingga hyper market.

Walaupun mayoritas minimarket dan super market menggunakan plastik “Ramah Lingkungan”, program ini tetap berlaku. Karena kantong plastik jenis apapun yang bersifat sekali pakai dan tidak tahan lama harus dikurangi dan dikenakan biaya. Jadi setiap transaksi di minimarket, supermarket dan hyper market yang menggunakan kantong plastik akan tetap dikenakan biaya Rp 200 per plastik.

Lalu kemanakah uang hasil penjualan plastik tersebut? Uang yang terkumpul sebagai Dana Publik ini nantinya akan disalurkan ke organisasi non-pemerintah untuk kegiatan lingkungan pengelolaan sampah.

Jadi sebaiknya kita menyiapkan kantong alternatif pengganti plastik seperti tote bag, paper bag atau tas belanja tradisional seperti yang sering dibawa nenek kita ke pasar. Mari budayakan kembali kebiasaan orang tua dan nenek kita dulu dan kurangi penggunaan plastik untuk menjaga lingkungan!

Baca juga : Kurangi Penggunaan Plastik Dan Beralih Ke Reuseable Bag

Sumber:

Share: